
Terinspirasi dari karya sang fenomenal Ust. Anis Matta yang berjudul Mencari Pahlawan Indonesia, ana mencoba merefleksikan kembali momentum hari pahlawan yang sudah kita peringati tanggal 10 November kemarin. Sebuah refleksi kolektif kita terhadap eksistensi para pahlawan, yang telah mengambil pilihan sadar untuk berkorban demi bangsanya. Sesungguhnya para pahlawan adalah orang-orang biasa yang menjadi luar biasa karena menjelmakan secara nyata jiwa kepahalawanan yang ada dalam dirinya menjadi laku, menjadi perbuatan. Sedangkan Ust. Anis Matta. (2003), menguraikan pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.
Peringatan Hari Pahlawan yang dilaksanakan setiap tahun, tentu saja bukanlah rutinitas belaka. Peringatan Hari Pahlawan mesti dipandang sebagai upaya untuk terus-menerus mengingatkan kita bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu dan sadar untuk dapat menghargai jasa-jasa para pahlawannya”. Dengan mengingat itu, kita terbiasa untuk tidak lupa diri, bahwa bangsa ini tidak mungkin dapat tegak berdiri tanpa perjuangan para pahlawan. Mereka para pahlawan yang telah mencurahkan segala daya dan tenaganya bukanlah hanya untuk kita kagumi, namun lebih dari itu yang terpenting bagi kita adalah untuk kita teladani.
Jiwa-jiwa kepahlawanan harus kita tanamkan sebagai manifestasi apresiasi kita terhadap pengorbanan darah dan nyawa dari para pahlawan. Apalagi bagi kita yang menyandang status yang sangat ’terhormat’, yaitu sebagai seorang pemuda yang mempunyai andil besar dalam perubahan bangsa ini kedepan. Status yang yang diidam-idamkan banyak orang. Terlebih orang-orang tua di jamannya yang sudah tidak mungkin lagi merasakan masa-masa nikmat itu. Tinggal pilihannya pada kita, apakah mau memanfaatkan momentum itu ataukah melewatkannya begitu saja dengan tanpa makna? Sejarah hanya mencatat para PEJUANG dan tidak akan pernah mencatat para PECUNDANG.
Sudah bukan menjadi sejarah yang yang terbantahkan bahwa Rasulullah ketika pertama kali berperang adalah ketika usianya masih sangat muda, sekitar 17 tahun. Imam syafi’i yang sudah menjadi ulama besar dan hafal 30 juz Al-Qur’an tatkala umurnya masih 12 tahun. Perjuangan kemerdekaan bangsa inipun tidak pernah lepas dari peran sentral para pemudanya. Kemerdekaan yang kita proklamirkan 17 agustus itupun adalah sebuah perjuangan gigih para pemuda yang terus mendesak bung Karno hingga mereka bersusah payah menculik mereka ke rengasdengklok yang diabadikan dalam sejarah bangsa. Puncaknya, adalah momen tumbangnya era ordebaru yang sudah mengkrangkeng bangsa ini selama 32 tahun menuju sebuah era reformasi yang penuh keterbukaan dan kebebasan. Melihat semua fenomena tersebut, apakah kita masih bisa mengatakan dengan angkuhnya bahwa hidup kita masih panjang dengan melimpahkan urusan dan tanggungjawab kepada orang-orang tua? Lalu dimanakah kita temukan pahlawan-pahlawan baru itu? Pahlawan dengan jiwa-jiwa muda yang segar dan menggelora dalam semangat kepahlawanan. Pahlawan muda yang berjuang gigih meneruskan perjuangan kemerdekaan para pahlawan ketika anak-anak muda seusianya masih larut dalam euforia berkepanjangan.
KAMMI sebagai sebuah wadah permanen pencetak pemimpin bangsa masa depan adalah salah satu kekuatan alternatif yang mampu menjawab tantangan itu. Dengan diisi oleh anak-anak muda yang semangat dengan basis agama yang kuat dan basis akademik yang mapan mempunyai peluang besar mencetak ’pahlawan-pahlawan muda’ yang kelak akan memimpin bangsa ini. Sebagai sebuah kekuatan mahasiswa yang lahir ditengah terpuruknya moral dan matinya aspirasi, KAMMI mempunyai andil besar dalam proses perubahan bangsa ini kedepan. InsyaAllah.
ALLOHUAKBAR…100X!
Recent Comments